Selasa, 30 Desember 2014

ICV GOES TO BLITAR (PART 1) – CANDI PENATARAN


Halo sobat traveller, kali ini Sahabat 11 Traveller akan mengajak kalian berkeliling ke kota tempat lahirnya bapak proklamasi kita yaitu Blitar. Bukan dengan seorang teman, atau dengan beberapa ekor orang, tapi kali ini Sahabat 11 Traveller berwisata bareng 70-an orang. Wow, lha kuk bisa?? Ya, karena ini acara kantor, jadi rekreasinya bareng-bareng 1 kantor, hehe.
Acara yang bertajuk Internal Corporate Value (ICV) ini diadakan 2 kali dalam setahun dengan destinasi wisata yang berbeda-beda tiap ICV. Tujuan dari ICV ini adalah untuk mempererat kerjasama antar pegawai dengan berpedoman nilai-nilai Kementerian Keuangan, meskipun pada akhirnya acaranya lebih banyak jalan-jalannya saja, hehe. Oh iya, sebenarnya saya gag kepikiran bakal di ajak ikut acara ini karena saya baru masuk ke KPP 628 pada hari senin tanggal 10 November 2014, sementara acaranya sabtu tanggal 15 November 2014 (ya berharap dikit sih, tapi sadar diri lah biar gag kecewa kalau gag diajak, hehe). Setelah ditunggu-tunggu, ternyata saya yang masih berstatus pegawai OJT dan bersama teman-teman OJT-ers yang lain ternyata di ajak juga, bahkan kami dapat kaos dan topi serta dipesankan tiket kereta juga seperti pegawai yang lain (Alhamdulillah ^_^)
KPP 628 yang punya jargon SAE ini memang beda dari yang lain. Bukannya menyewa bus supaya perjalanan ke Blitarnya bisa tepat waktu dan lebih nyaman, eh malah nyewa gerbong kereta ekonomi. Katanya sih gara-gara banyak pegawai yang jarang naik kereta dan supaya bisa bikin acara selama perjalanan mangkanya dipilihlah kereta api Penataran (yang sering naik Penataran pasti tahu rasanya kereta ini, hehe).
Kami berangkat dari Stasiun Malang pukul 07.18. Sebelumnya sudah dibentuk kelompok-kelompok berdasarkan motto Kemenkeu yang akan berlomba menampilkan sesuatu selama di kereta.

Kami sampai di Blitar pukul 10.30-an (jadwal kedatangannya kalau ontime sebenarnya jam 10.00). Di luar Stasiun Blitar kami sudah ditunggu elf-elf yang sudah disewa oleh kantor. Setiap kelompok dapat 1 elf, lalu panitia ICV juga 1 elf, jadi kalau di total ada 6 elf. Perjalanan ke Candi Penataran dari stasiun sekitar 20 menit.

Parkiran di Candi Penataran
Candi Penataran terletak di Desa Penataran Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Berdasarkan prasasti Palah, candi hindu ini dibangun pada tahun1194 pada masa pemerintahan Raja Syrenggra yang memerintah Kerajaan Kediri. Candi ini digunakan sebagai tempat pengangkatan raja-raja dan untuk upacara pemujaan kepada sang Pencipta. Bahkan menurut cerita penduduk sekitar, konon Patih Gajah Mada mengucapkan sumpah palapa di pelataran candi ini.
Pintu masuk candi

Halaman candi
Saat masuk ke dalam komplek candi, kita disambut dengan arca raksasa yang memegang gadha berjumlah 2 buah (Arca Dwarapala). Kemudian di sebelahnya ada halaman yang luas seperti pendopo yang konon digunakan untuk tempat bermusyawarah. Masuk ke halaman tengan ada sebuah bangunan yang berbentuk seperti gapura dengan tinggi sekitar 4 m (bangunan ini disebut juga Candi Angka Tahun). Di dalamnya terdapat patung ganesha. Lanjut ke bagian belakang terdapat candi induk dengan tinggi sekitar 7 meter.

Langit mendung di atas candi

Selfi dulu bareng OJT-ers 628

Ni semua pegawai KPP 628


Setelah puas berjalan-jalan dan berfoto-foto, kami melanjutkan perjalanan ke rumah makan President yang sudah di pesan sebelumnya untuk istirahat sambil menikmati hidangan prasmanan yang telah disediakan.


Rabu, 26 November 2014

PANTAI GONDO MAYIT, "KEINDAHAN DIBALUT NAMA SERAM"



Hai sahabat traveller, kali ini perjalanan kita akan menjelajahi salah satu pantai perawan di Blitar yang lumayan seram namanya, tak lain dan tak bukan adalah Pantai Gondo Mayit. Pantai ini terletak di Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Kalau mendengar kata Tambakrejo mungkin sudah tidak asing lagi di telinga sahabat traveller karena Tambakrejo merupakan salah satu pantai terkenal di Blitar. Lokasi Pantai Gondo Mayit sendiri tepat di sebalah Pantai Tambakrejo, hanya dibatasi bukit yang tidak terlalu tinggi.
Saya berangkat dari Pare pukul 08.00 WIB bersama dengan Ferdy, Taufiq, dan Kiki (D’Jay Kos Team), Rute yang kami lalui adalah Pare-Wates-Blitar. Aspal di sekitar perbatasan Kediri-Blitar banyak yang sudah rusak sehingga kami harus lebih berhati-hati, terutama ketika menyalip kendaraan lain. Memasuki Kecamatan wonotirto jalanan mulai berkelok-kelok dan menyempit, akhirnya kurang lebih setelah 2 jam kami sampai di Tambakrejo. Pantai Tambakrejo sendiri sangat panjang garis pantainya dan sangat enak untuk dipakai bermain air, tapi tujuan utama kami bukan di pantai itu, tetapi pantai yang ada di sebelahnya. Harga tiket masuknya Rp 3000 tiap orang.
Jalanan di Kecamatan Wonotirto, dari sini laut lepas sudah bisa kita lihat 
 
Gerbang masuk di kawasan wisata Pantai Tambakrejo
Rincian harga tiket masuk
 Ada rasa penasaran bagi saya pribadi kenapa pantai itu dinamakan sebegitu menyeramkan. Usut punya usut, setelah bertanya pada penduduk sekitar, ternyata pantai itu dinamakan Gondo Mayit karena di atas bukit menuju pantai ada kuburan (mungkin sekitar 5 makam) sehingga di sebut pantai yang ada mayitnya. Tapi semua itu hanya nama belaka, tidak ada hal mistis yang perlu ditakutkan saat sampai di sana. Yang timbul malah decak kagum akan keindahan pemandangan laut, yang bisa kita nikmati dari atas bukit.
Setelah menitipkan motor di warung yang ada di Pantai Tambakrejo, kami pun mulai tracking menaiki bukit. Sebenarnya ada jalan kecil yang bisa kita tempuh dengan motor untuk sampai di Gondo Mayit, tapi kalau lewat sana kita tidak akan bisa melihat-lihat pantai dan laut dari atas ketinggian. Bukitnya tidak terlalu menanjak, hanya perlu kehati-hatian saja supaya tidak tergelincir, paling sekitar 15-20 menit saja perjalanan untuk mendakinya. 
Narsis dulu bareng d'jay kos
 

Pemandangan dari atas bukit
 Ombak di Gondo Mayit lumayan kencang, pasirnya lembut dan bersih khas pantai-pantai di laut selatan. Hawanya sejuk meskipun matahari sedang terik. Pantai ini sendiri belum begitu di kelola oleh pemda setempat, hal itu dapat dilihat dari sepinya orang yang berjualan di sana serta akses jalan menuju pantainya (pas saya ke sana hanya ada 2 warung d sekitar pantai, itupun juga sedang tutup). Berikut momen-momen yang sempat kami abadikan.


Pasir di Gondo Mayit
Berjemur dulu bro, hehe




 Puas bermain-main dengan ombak dan perut kami pun mulai keroncongan, kami pun kembali ke area Pantai Tambakrejo karena yang ada penjual makanan hanya di sana saja. Setelah selesai mandi dan sholat, kami berempat memilih-milih menu makanan apa yang enak di santap siang hari di tepi pantai. Dan pilihan kami pun jatuh kepada........jreng.......jreng...... ikan bakar, hehe. Di Tambakrejo banyak tersedia ikan bakar jenis tongkol, harganya pun antara 6 ribu sampai 10 ribu, tergantung besar kecilnya ukuran ikan. Sambil ditemani es degan mantap banget lah........:D
 
Ikan bakar plus es degan, uenak...

Senin, 24 November 2014

AIR TERJUN TRETES, “TWIN HEAD GIANT”


“Kepuasan dalam menggapai keindahan tidak selalu dicapai dengan cara yang mudah, akan butuh banyak perjuangan di dalamnya”
Mungkin kutipan kalimat tersebut akan tepat untuk menggambarkan pesona dari salah satu air terjun tertinggi di Pulau Jawa ini. Hal ini dikarenakan untuk dapat mencapainya butuh perjuangan yang lumayan ekstra, terutama untuk orang-orang yang jarang mendaki seperti saya ini, hehe.
Bersama Ferdy dan Taufik (temen-temen d’jay kos) kami berangkat dari pare pukul 10.00 WIB. Untuk mencapai air terjun sebenarnya ada 2 rute, yaitu lewat Jombang ke arah Gudo, atau lewat Pare-Kandangan. Kalau lewat Pare, setelah pasar kandangan (trafic line kandangan) ambil jalan yang lurus saja, setelah itu ikutin saja jalan aspal tersebut sampai ke Desa Galengdewo Kecamatan Wonosalam. Tidak ada petunjuk jalan (plang) yang bisa mengarahkan kami ke air terjun itu sehingga kami sesekali berhenti untuk bertanya ke penduduk sekitar. Jalan menuju desa tersebut sudah di aspal semua, tidak begitu banyak lubang-lubang sehingga cukup mudah untuk dilewati motor.

Letak air terjun Tretes sendiri berada di antara bukit-bukit pegunungan, di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soeryo di komplek Gunung Anjasmoro. Tidak ada akses  kendaraan bermotor untuk bisa mencapai tempat itu sehingga kita harus menitipkan motor kita ke penduduk sekitar (biaya nitipnya Rp 5000). Awalnya saya mengira kami tidak harus berjalan terlalu jauh dari tempat batas penitipan motor itu, tapi ternyata perkiraan saya salah. Kurang lebih 1,5 jam waktu yang harus kami tempuh untuk mencapai lokasi air terjun yang berada di kawasan hutan lindung Kementerian Kehutanan itu.
Di awal perjalanan kita akan melihat deretan perkebunan salak dan kopi milik penduduk sekitar. Jalannya tidak terlalu menanjak, tapi lumayan melelahkan sehingga kami harus berhenti beberapa saat untuk istirahat (ironisnya yang membawa minum hanya 1 orang dan itu hanya sebotol aqua ukuran 600 ml, hehe). Selain itu kita juga sesekali berpapasan dengan penduduk di sana yang mencari rumput dan kayu di area bukit. Kata orang-orang kalau lagi musim hujan pengunjung di larang untuk naik ke lokasi karena di situ adalah daerah yang rawan longsor. Bahkan kalau cuaca sudah kelihatan mendung, pengunjung harus sesegera mungkin untuk turun, guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Saran saya kalau mau ke sana bawa air minum secukupnya dan bekal atau jajan karena di sepanjang perjalanan tidak ada warung (ya jelaslah, lha di dalam hutan masak ada warung, hehe).


Jalan setapak yang kami lalui

Jalan yang harus dilalui adalah jalan setapak. Di sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan bukit yang sangat indah, sungai yang mengalir, dan kicauan burung-burung (pokoknya mantab banget lah buat yang suka suasana alam). Ada 2 pos pemberhentian yang bisa kita gunakan untuk istarahat, tapi jangan harap ada yang jual makanan. Oh ya, untuk tiket masuk ke air terjun ini adalah Rp 0 alias gratis. Wisata ini belum begitu dikelola oleh pemda Jombang, mungkin karena letaknya yang di dalam hutan lindung sehingga ditakutkan akan mengganggu habitat yang ada di dalamnya kalau dikembangkan menjadi tempat wisata. Bisa dibilang Air Terjun Tretes memang dibiarkan masih alami, itulah salah satu daya tarik tersendiri dari air terjun ini. Tapi kalau dikelola secara benar tanpa harus merusak alam disekitarnya, saya yakin tempat ini akan jadi salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Timur.
 
Pemandangan di sepanjang perjalanan

Setelah berjalan sekitar 1,5 jam kami pun sampai di lokasi air terjun. Panorama alam yang sangat indah langsung terpancar dari area itu. Rasa lelah setelah berjalan jauh akan terbayar lunas. Hening, dingin, di tambah cipratan-cipratan air terjun menambah kemurnian pemandangan yang kita dapatkan. Sekedar info, saat kami di sana tidak ada pengunjung sama sekali, artinya saat itu di lokasi air terjun itu hanya ada kami bertiga (enak kan, kapan lagi enikmati pemandangan air terjun yang tinggi dan megah tanpa terganggu keramaian, hehe). Airnya sangat sejuk, bahkan saya sempat meminum airnya untuk merasakan kealamian air dari pegunungan.